M Ihsan, Sosio Science Studies
Comments (0)
Pujian dan pujaan yang terus diluapkan untuk Sang Maha Pemilik Pujian, yang terus memberikan nikmat-Nya untuk bisa bersilaturrahim dengan seluruh manusia. Shalawat serta salam semoga selalu Allah curahkan untuk manusia yang paling agung, yang terus menjaga pertalian saudaranya. Dialah Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam, dialah yang mengajurkan memperpanjang silaturrahim jika ingin Allah memperpanjang rezki dan umurnya dan semoga juga tercurah kepada keluarganya, sahabatnya, dan pengikutnya hingga akhir zaman. Amin.
Ikatan Alumni Insan Cendekia tersingkat IAIC. Tak dapat dipungkiri, kata “IAIC” dan Insan Cendekia (IC) tak dapat dilepaskan begitu saja. Setali tiga uang. Semua hal-hal yang tersangkut paut dengan IC sedikit banyaknya akan berpengaruh pada keberadaan IAIC, sekalipun hanya sebuah pembicaraan. Ke-eksis-an IC pun akan berpengaruh pada peran alumninya. Lihat betapa pentingnya IAIC, hingga yang dimaksudkan dan dimaktubkan dalam visi dan misi pendirian sekolah kita ini adalah alumninya, bukan siswa-siswi yang ada didalamnya. Alumninya-lah yang akan menjadi pemimpin dengan keseimbangan imtaq dan iptek. Sudah barang tentu, sekali lagi, peran alumni sangat penting bagi keberlangsungan visi dan misi sekolah.
Tapi, perlu kita ingat juga, generasi penerus yang ada dibawah kita juga adalah aset sekolah dan IAIC. Mereka semua yang kini masih mengenyam apa yang dinamakan bangku sekolah atau masa-masa yang kita pernah lewati bersama pun membutuhkan ’sentuhan’ alumni. Betapa tidak?! Bukankah proses menuju IAIC adalah IC itu sendiri? Bukankah keberlangsungan IC berpengaruh pada keberlangsungan IAIC, yang dengan turunnya kualitas sumber daya manusia didalam IC akan berpengaruh pada aset IAIC kedepannya.
Tanpa membicarakan input yang ada, output akan menjadi hal yang lebih penting. Maksud saya, satu hal yang perlu kita konsentrasikan adalah bagaimana menempa aset-aset IAIC itu nantinya, bukan sibuk membicarakan asal usul mereka yang membuat kita stagnan pada hal yang kurang perlu dibicarakan. Seperti apa yang dikatakan oleh seorang guru, ”Sekolah yang baik adalah sekolah yang berhasil menempa muridnya dengan baik, menerima murid dalam keadaan nol hingga menjadi satu. Berkebalikan dari itu adalah sekolah yang berhasil melakukan seleksi untuk menerima murid dalam keadaan yang satu dan hanya membuat lulusan yang berkadar satu jua. Ini adalah sekolah yang buruk”
Berkaca dengan apa yang telah alumni perbuat untuk IC, selayaknya kita menilik lebih dalam dengan apa yang Allah ta’ala firmankan dalam surat al-Maaidah, ”Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah.” Allah telah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Pertolongan dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan yang berkebalikan dari itu. Pertolongan yang membuat aset-aset IAIC menjadi bangga terhadap IAIC-nya sebelum mereka menginjakkan kakinya di organisasi ini. Pertolongan yang membuat para pengajar agak tersenyum lega dan puas dengan apa yang mereka hasilkan. Pertolongan yang dihasilkan karena rasa terima kasih kita kepada founders, para pengajar, para karyawan, dan yang lainnya. Bukankah telah ada hadits rasulullah salallahu ’alaihi wasallam yang berbunyi, ”Belumlah dianggap bersyukur kepada Allah, orang-orang yang tidak berterima kasih kepada sesamanya (manusia).”
Langkah alumni memang boleh melebarkan sayapnya hingga dunia ini tertutupi olehnya, tapi alumni bukanlah kacang yang lupa akan kulitnya. Alumni bak maxila dan mandibula dengan siapa-siapa yang ada didalam IC. Alumni bak striker dan keeper dengan siapa-siapa yang masih menggelayut di sekolah kita ini. Kalau saya bisa menyimpulkan dari kasat mata, sebagian alumni merasa bahwa kontribusi di IAIC:
- adalah kegiatan yang kurang mendapatkan hasil secara instan, tak seperti apa yang alumni dapatkan di kuliah. Ada nilai, ada perhatian dosen, ada teman-teman baru, ada banyak hal lain yang membuat alumni tak sadar sedang dibutuhkan.
- adalah kegiatan yang sebetulnya akan berbentrokan dengan tugas-tugas yang telah diberikan oleh pihak berwenang kepada instansi sekolah dan orang-orang yang ada didalamnya. Atau dalam kata gamblangnya, ”ngapain juga capek-capek atau bantuin IC, kan udah ada yang di gaji buat itu atau nanti yang ada didalam instansi akan makan gaji buta donk!”
- adalah kegiatan yang hanya buang-buang waktu karena kuliah adalah dunia yang mengasyikkan bagi alumni. Juga karena alumni memiliki komunitas baru yang lebih membuat terpesona dibanding komunitas IC yang terlihat kaku dan begitu-begitu saja.
Ini sebagian hal yang dapat saya ketahui mengenai ke-enggan-an atau yang membuat belum berkecimpungnya sebagian anggota IAIC secara maksimal di organisasi ini. Semua hal diatas sebetulnya sudah terjawab dengan apa saya paparkan sebelumnya, seperti ayat dan hadits yang saya berikan.
Ini memang berangkat dari sikap acuh tak acuh pada diri sebagian alumni dan menganggap sikap acuh tak acuhnya itu adalah hal sepele, padahal rasulullah salallahu ’alaihi wasallam bersabda (dalam makna),” Tidak dianggap seseorang itu muslim yang sempurna kalau ia tidak memikirkan nasib saudaranya”. Dianalogikan dengan zakat, salah satu mustahiq (baca: penerima zakat) adalah orang fakir dan golongan ini diusahakan adalah yang memiliki hubungan dekat dengan kita seperti tetangga, saudara atau pula teman yang membutuhkan. Begitupula dalam hal lainnya, seperti pengajaran dan pembinaan, tentu aset-aset IC lebih dekat kekerabatannya kepada alumninya dibanding yang lain.
Inilah yang saya maksudkan dengan judul tulisan saya ’IAIC, back to IC!’. Bukan berarti alumni harus sibuk dengan IC dengan tanpa memikirkan nasib kuliahnya, nasib prestasinya, nasib organisasinya, dan nasib-nasib lainnya yang membuat nama IC dan IAIC itu sendiri harum. Bukanpula IAIC adalah pembatas gerak bagi almuni untuk meluaskan langkah dibumi Allah ini. Kalaulah IAIC menjadi penghalang nasib-nasib baik yang akan dikejar, tentunya IAIC telah berbelok arah yang mengakibatkan visi dan misi sekolah tak terealisasikan yaitu menjadi para pemimpin Indonesia. Tapi, yang saya maksudkan disini, masing-masing alumni memang punya kegiatan dan rencana yang lebih penting untuk masa depan alumni itu sendiri tapi –kalau boleh pinjam istilah orang- mari kita membumikan IAIC. Dengan apa? Saya akan tuturkan sebutir dari lautan gurun yang ada tentang apa yang bisa kita lakukan untuk IC.
- Miris jika kita mendengar siswa-siswi IC pada jenjang akhir sibuk dengan izin khusus dengan alasan bimbingan belajar. Disini yang saya kritisi adalah bimbingan belajarnya, terlepas dari jujur dan tidak jujur, tapi saya melihat mereka pergi berjama’ah dan disana ada anak-anak yang bisa saya percaya kredibilitasnya. Kalimat ’bimbingan belajar’, jika saya boleh melihat lebih dalam, ini mengindikasikan apa yang diberikan oleh staf pengajar bisa jadi kurang atau bahkan sudah memudar bagi para siswa dan siswi atau kepercayaan orang tua yang semakin surut. Mengapa ini terjadi? Ya, ini sangat mungkin terjadi, para pengajar adalah manusia. Manusia pun memiliki sifat jenuh dan pasang surut. Ini salah satu ladang kita berkonstribusi untuk mencerahkan IC yang notabene juga mencerahkan IAIC secara jangka panjangnya. Tan Malaka dalam bukunya ”Dari Penjara Ke Penjara” mengatakan, ”Mengajari anak-anak Indonesia saya anggap pekerjaan tersuci dan terpenting.”
- Pembinaan keagamaan dan konseling. Ini juga merupakan satu dari sekian ladang yang bisa alumni ’garap’. Sebagai contoh, khutbah jum’at atau buletin jum’at atau self development dan banyak hal lainnya yang akan membuat wawasan sekolah dan orang-orang didalmnya lebih terbuka dan bertambah. Tentunya semua bidang ini harus disesuaikan orangnya. Tidak sembarang orang yang bisa berbicara tentang agama dan konseling. Alih-alih berencana untuk meningkatkan mutu malahan membuat down dan tersesatnya para siswa.
- Outbound. Dengan modal ini, selain menambah kas IAIC, kegiatan ini juga akan menambah keakraban dan kekerabatan yang ada antara calon anggota dengan yang telah menjadi anggota IAIC. BSO JIWANDARU tentu lebih paham dan mengerti mengenai hal ini.
- Media pelayanan dan informasi IAIC. Buletin dan mading serta SMS hotline atau website yang bisa menjadi sarana penyambung silaturahim dengan para siswa-siswi sekalian. Ini bisa menjadi bahan yang pas untuk penyebaran hasil-hasil ILC.
- Membantu pencarian informasi kuliah dan beasiswa serta membantu dalam persiapan menuju kesuksesan dalam menghadapi ujian. Hal ini didasari penglihatan saya pada kuliah yang saya tempati sekarang. Universitas yang saya tempati sekarang hanya menyediakan 60 kursi setiap tahunnya. Itu memang tidak sebanding dengan pelamar yang ada. Pelamar yang datang dari Indonesia secara keseluruhan, Malaysia, Filipina, dan Australia mencapai 2000 orang. Hal ini yang membuat tes seleksi begitu menentukan siapa yang berhak masuk dalam universitas ini. Sebagian kawan-kawan yang tergabung dalam persatuan mahasiswa Jawa Timur melakukan inovasi dengan mengadakan pelatihan-pelatihan. Mereka bersedia keliling pesantren-pesantren di Jawa Timur untuk mengajari bahasa arab dan cara menjawab ujian secara tepat. Bahkan mereka bukan alumni dari pesantren yang mereka datangi, yang terpenting adalah Jawa Timur-nya. Mereka juga berhasil membuat buku -untuk kalangan sendiri- kumpulan soal-soal ujian masuk universitas ini dan dengan cara menjawabnya. Peluh dan kerja keras mereka pun membuahkan hasil. Hampir 20% kursi setiap tahunnya di universitas yang saya tempati ini terisi oleh ’produk’ Jawa Timur. Saya yakin, IAIC lebih bisa dari itu. Begitupula mengenai informasi beasiswa yang ada dan pengenalan kuliah yang tentunya para alumni lebih paham dibanding yang tidak duduk diperkuliahan sekarang. Saya melihat hal ini sebagai rasa terima kasih kita kepada konselor kita yang setiap tahunnya seperti one man show, bekerja sendiri dan letih sendiri.
Seperti yang saya katakan tadi, bahwa ini hanya secuil dari banyak hal yang alumni bisa perbuat untuk IC dan masa depan IAIC tentunya. Tambahan dan masukan sangat dinantikan oleh penulis.
Betapapun, aset-aset IAIC akan lebih melihat dengan apa yang kita lakukan dibanding mendengar dengan apa yang kita ucapkan dengan mulut berbusa. Sesuatu yang praktis dan konkrit akan membuahkan hasil yang lebih signifikan dibanding perkataan yang manis tapi tidak dengan perbuatan. Saya tidak pungkiri jikalau kalimat bisa membakar hati setiap manusia, jika perkataan bisa merubah manusia, tapi akhlaq dan perbuatan akan terus terkenang dan diteladani.
Hal yang sangat kita ketahui dan ini sudah menjadi sunnatullah, bahwa setiap generasi akan habis dan akan tergantikan oleh generasi selanjutnya. Tanpa bermaksud muluk-muluk dan terlalu idealis, buatlah generasi yang akan menyerahkan tongkat estafetnya kepada kita percaya dan yakin dengan apa yang akan kita lakukan, buat juga mereka bangga dan lega dan merasa telah melakukan yang terbaik untuk kita. Tanggung jawab ini akan kita pikul untuk sekolah, masyarakat dan Islam. Ingat pula bahwa generasi kita akan diteruskan dan digantikan dengan generasi selanjutnya, tinggal bagaimana kita menempa dan mendidik mereka agar kita bisa bangga dan lega dengan apa yang kita kerjakan.
Terakhir, tersinspirasi dari judul sebuah buku, kini kita –para alumni- akan mengganti kalimat ”IC, emang gue pikirin?” dengan ”IC, emang gue pikirin!” Bayangkan! Bahwa tanda baca pun berpengaruh dengan apa yang akan kita wujudkan. Terima kasih.
Akhirud da’waanaa an al-hamdu lillahi rabbi al-’aalamiin.
dikirim @ 22 August 2008
>> Penulis, Daar el-Arqoom, M Ihsan
Comments (0)
Segala puji hanya untuk Allah, tuhan sesembahan alam semesta, yang memiliki jagad raya dan seluruh yang ada didalamnya. Tak luput satu gerak yang ada di muka bumi ini atau di langit sekalipun dari penglihatan-Nya. Bahkan seekor semut yang berjalan dimalam hari pun Ia ketahui segala tingkah lakunya. Begitupula tetesan-tetesan embun yang terus mengalir di pagi hari. Semuanya ini telah Allah kabarkan dalam firman-Nya dalam surat Thoha (20) ayat 6-7, yang artinya: Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada dilangit dan semua yang ada dibumi dan semua yang ada diantara keduanya dan semua yang ada dibawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Alloh, tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Dia memiliki al-asmaa’u al-husna (nama-nama yang baik).
Semoga Allah ta’ala selalu mencurahkan salawat serta salam kepada penutup para rasul, manusia paling baik, nabi yang paling banyak pengikutnya, Muhammad salallahu ’alaihi wasallam. Dialah manusia yang tak cukup lembaran demi lembaran ini untuk menggambarkan akhlaqnya, kebaikannya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesolihannya. Begitupula kepada para keluarganya dan para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman, atas mereka semoga Allah selalu curahkan salawat dan salam.
Dengan ke-Maha Kuasa-an Allah, Ia adalah yang paling mengerti tentang kebaikan untuk hamba-Nya. Ia juga paling mengerti mengenai kemaslahatan dari para penyembah-Nya. Dibalik semua itulah, Allah turunkan kemuka bumi ini dua belas bulan yang penuh dengan kerahmatan dan keberkahan. Juga Allah lebihkan satu bulan diantara dua belas bulan yang ada yaitu dengan kewajiban berpuasa dan didalam bulan tersebut Allah turunkan kitab yang tidak pernah tergoyahkan kesuciannya yaitu al-qur’an al-kariim. Inilah bulan ramadhan, bulan yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh rasulullah salallahu ’alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ’anhum. Hingga dalam sebuah atsar yang masyhur disampaikan bahwa para sahabat radhiyallahu ’anhum berdoa sejak enam bulan sebelum kehadiran ramadhan agar mereka dapat dipertemukan dengan ramadhan tahun ini dan mereka radhiyallahu ’anhum bersedih selama enam bulan lamanya sesudah ramadhan karena ditinggalkan bulan yang mulia ini. Subhanallah !
Ingatlah bahwa janji Allah adalah janji yang pasti, janji yang tidak mungkin untuk tidak ditepati. Allah dengan ke-Maha Agung-annnya telah berfirman dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 183, yang artinya : Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana Allah wajibkan atas umat-umat terdahulu agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.
Diantara kita sudah menjadi hal yang lumrah ketika ramadhan datang adalah dengan hal-hal yang berkaitan dengan sahur, buka puasa, tarawih, ’id fithr, dan zakat fithrah. Tak lebih. Ramadhan terus berulang, tapi kita tetap berkutat pada hal-hal yang tersebut diatas. Ada yang telah melewati ramadhan sebanyak lima kali, sepuluh kali, lima belas kali, bahkan dua puluh kali, tapi tak ada perubahan yang mendasar pada dirinya, keluarganya, apalagi wilayah yang ia pijak sekarang. Ironi memang, tapi tetaplah ingat bahwa janji Allah adalah pasti. Orang yang berpuasa akan menjadi orang yang bertaqwa. Tentu kesalahan bukan pada ramadhan itu sendiri, apalagi pada Allah yang memiliki janji sedangkan Ia adalah dzat yang maha suci dari segala kesalahan, tentu kesalahan ini milik kita sebagaimana yang rasulullah salallahu ’alaihi wasallam telah gambarkan dalam haditsnya yang shohih : ”Seluruh anak adam itu sering berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat”.
Kesalahan adalah bukan melulu dikarenakan faktor kesengajaan atau ketidaksengajaan. Kesalahan juga sering terjadi dari faktor ketidaktahuan. Berapa banyak orang yang tidak mengerti bagaimana mengoperasikan sebuah mesin penggiling gula di pabrik-pabrik gula di beberapa tempat di negeri ini yang membuat orang tersebut ikut masuk ke dalam mesin penggilingan itu atau juga belum hilang dari ingatan kita, betapa sering melihat kejadian mobil terbang dari beberapa gedung parkir di Jakarta hanya dikarenakan ketidaktahuan mengoperasikan mobil bertransmisi otomatis. Padahal kalau kita tilik lebih dalam, menggunakan mesin giling dalam pembuatan gula tentu lebih nyaman dan lebih produktif dari pada dilakukan dengan kedua tangan para pekerja atau menggunakan mobil bertransmisi otomatis membuat kita lebih leluasa dan lega dan berkendara. Ketidaktahuan kita pada keuntungan sesuatu hal atau barang yang membuat kita tidak hati-hati atau tidak lebih berkonsetrasi dalam menggapai keuntungan tersebut.
Oleh karena itu, saya sajikan setetes keutamaan dari lautan keutamaan yang ada dari bulan suci ini, bulan yang kita wajib nantikan kehadirannya dengan penuh sukacita dan bulan yang membuat kita menangis dan bersedih karena ditinggalkan olehnya. Ini juga sesuai dengan pepatah orang Indonesia, yang berbunyi : ”tak kenal maka tak sayang”.
Dalam kita shohih bukhari dan muslim, diriwayatkan dari jalan sahabat abu hurairoh radhiyallahu ’anhu, rasulullah salallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Allah Ta’ala berfirman: setiap amalan anak Adam menjadi haknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu menjadi hak-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya. Puasa adalah perisai, maka jika salah seorang diantara kalian sedang berpuasa hendaklah ia tidak berkata kotor dan membentak-bentak. Jika ada seseorang mencelanya atau memeranginya hendaklah ia berkata: ”aku sedang berpuasa!” Demi dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah daripada aroma kesturi. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan. Kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Robbnya karena puasa yang dilakukannya.”
Hadits yang mulia ini mengajarkan kita banyak hal mengenai keutamaan bulan ramadhan.
Pertama, Allah ta’ala mengkhususkan ibadah ini hanya untuk diri-Nya. Ini disebabkan kemuliaan ibadah ini dan kecintaan Allah pada ibadah ini. Merupakan ibadah yang terjaga kerahasiaannya antara Allah dan dirinya. Sungguh, jika seseorang ingin memakan makanan yang sedang diharamkan di waktu puasa tersebut, tentu bisa ia lakukan dengan bersembunyi dan tidak ada yang mengetahui. Tapi tak ia lakukan karena takut pada adzab Allah dan berharap ridho dan pahala-Nya, oleh karena itu, Allah berterimakasih atas ketulusannya dan pengabdiannya itu hingga menjadikan ibadah ini ibadah yang Ia khususkan untuk diri-Nya sendiri. Ini berkesesuaian dengan apa yang dikatakan oleh Sufyan ibn ’Uyainah rahimahullah: ”Pada hari kiamat kelak Allah akan menghisab hamba-Nya lalu menuntut kezholiman-kezholiman yang dilakukannya dengan menguras seluruh amalannya untuk menutupi kezholimannya itu. Sehingga ketika tidak tersisa lagi amalannya itu kecuali puasa, maka Allah akan memaafkan kezholiman yang tersisa dan kemudian memasukkannya ke dalam surga karena puasanya”
Kedua, ketika Allah berfirman dalam hadits tersebut: ”Dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya”. Sebagaimana kita ketahui, setiap amalan kebaikan akan Allah lipat gandakan sepuluh hingga sepuluh kali lipat sampai pada kelipatan yang begitu banyak. Sedangkan ibadah puasa, Allah sandarkan pahalanya pada diri-Nya langsung, diri-Nya yang Maha dermawan dan Maha pengasih, yang membuat pahala puasa tak terkira banyaknya, tak terhitung jumlahnya.
Ketiga, Puasa adalah perisai. Maksudnya adalah pelindung yang akan menjaga orang yang berpuasa dari perbuatan kesia-siaan dan perbuatan kotor. Maka dari itu rasul salallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Jika salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah kalian berkata kotor dan membentak-bentak (berteriak-teriak)”. Disamping itu puasa juga perisai bagi seorang hamba dari api neraka sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari sahabat Jabir radhiyallahu ’anhu, ”Puasa adalah perisai yang bisa digunakan oleh hamba untuk melindungi diri dari api neraka”
Keempat, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi. Ini salah satu tanda keagungan ibadah puasa yang dapat kita lihat secara kasat mata. Sesuatu yang dibenci dan dianggap jijik oleh manusia menjadi begitu berharga disisi Allah ta’ala. Ini disebabkan karena melaksanakan ketaatan karena Allah ta’ala.
Kelima, orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya. Kebahagiaannya ketika ia berbuka adalah karena ia merasa senang atas nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya yaitu bisa melaksanakan ibadah puasa yang merupakan dari bagian amal sholih yang utama. Sedangkan kebahagiaan ketika bertemu Rabbnya adalah karena ia senang sekali dengan ibadah puasanya ketika ia mendapatkan balasannya secara utuh pada saat mana ia jauh lebih membutuhkan ketika dikatakan: ”Dimana orang-orang yang berpuasa?” Mereka dipersilakan masuk kedalam surga dari pintu royyan, dimana tidak ada yang masuk dari pintu tersebut kecuali mereka.
Demikian, keindahan demi keindahan yang akan kita rasakan ketika kita merasakan kedatangan ramadhan dengan qolbu bukan sekedar karena kewajiban semata. Demikian, keagungan demi keagungan akan kita dapatkan ketika kita melaksanakan puasa dengan penuh hikmah dan ketulusan.
Pemaparan ini hanyalah satu titik ataupun dua dari sekian garis yang menggambarkan keindahan berpuasa dan kesucian bulan ramadhan. Ajakan ini tak lebih untuk mengingatkan jiwa penulis sendiri yang terus melemah karena ma’shiyah yang ia lakukan. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk selalu berada di jalan yang lurus dan melakukan perbuatan yang diridhoi oleh-Nya dan begitupula semoga Allah mudahkan kita untuk lari dari penyimpangan dalam agama ini dan apa-apa yang Ia benci.
Semoga ini menjadi amal bermanfaat bagi yang menulis, menyadur, menyebarkan untuk umat agar perjalanan kita sebagai seorang muslim menjadi sempurna dengan melaksanakan perintah Allah untuk saling nasihat menasihati seperti yang tertera dalam surat Al-Ashr.
Akhiru ad-da’waana an al-hamdu lillahi rabbi al-’alamiin.
Maraji (daftar pustaka):
- Al-Qur’an Al-Kariim
- Shahih al-Bukhari
- Kajian Romadhon, asy-syaikh Muhammad ibn Sholih Al-’Utsaimin
dikirim @ 20 August 2008